image1 image2 image3

DBUKU.ORG|PERPUSTAKAAN PRIBADI DIANA SASA|MENYEDIAKAN BUKU BACAAN GRATIS UNTUK UMUM|RUANG PUBLIK DAN KEDAI UNTUK DISKUSI, NONTON BARENG, RAPAT, PAMERAN, MINI KONSER, DSB

Suatu Masa, Perjuangan

Mungkin saat membaca judul buku ini, pembaca merasa Cak Roeslan terlalu berlebihan dalam mengisahkan kisah heroic tragedy  Sepuluh November. Bagaimana tidak, dari judulnya seakan-akan kemerdekaan dipertahankan dengan gigih hanya oleh rakyat Surabaya saja. Namun, saat pembaca mulai tenggelam mengikuti irama nasionalisme yang di buat olehnya, akan diketahui bahwa berawal dari perjuangan hidup mati rakyat Surabaya-lah akhirnya timbul perlawanan rakyat Indonesia pada sekutu.

Alasan Cak Roeslan memakai judul tersebut dikarenakan terinspirasi oleh karya John Reed. Ten Days That Shook The World, sebuah buku yang mengisahkan tentang Revolusi Bolshevik di Uni Sovyet. Sedangkan Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia ini, mengisahkan jumlah hari antara 17 Agustus 1945-akhir November 1945. Pada masa- masa itulah terdapat peristiwa bersejarah dalam Republik ini. Yaitu Hari Proklamasi Kemerdekaan hingga pertempuran-pertempuran Rakyat Surabaya dengan tentara Inggris yang dibonceng oleh Belanda.

Buku yang sudah dicetak selama enam kali ini menunjukkan banyak diminati oleh pembaca. Dengan sampul berwarna biru bergambar peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Oranye, terlihat penulis membawa misi untuk mengisahkan dengan detail nuansa heroik perlaw`nan  arek-arek Suroboyo.
Sebagai salah seorang saksi mata sejarah peristiwa 10 November, Cak Roeslan menuturkan ada tiga garis usaha yang dilakukan rakyat Surabaya dalam seratus hari itu. Pertama, usaha konsolidasi Pemerintah daerah Republik Indonesia. Kedua, usaha melucuti tentara Jepang. Ketiga, usaha melawan kembalinya imperialisme Belanda yang membonceng Inggris.

Paska diproklamasikannya kemerdekaan Republik oleh dwi tunggal Sokarno-Hatta di Jakarta. Pada dua hari kemudian tepatnya tanggal 19 Agustus 1945, serentak seluruh wilayah di Indonesia  mendapat instruksi membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Tak terkecuali Surabaya, tepatnya tanggal 28 Agustus telah terbentuk KNI Daerah Surabaya dengan Tjak Doel Arnowo sebagai ketua, Bambang Suparto serta Dwidjosoewiyo,S.H sebagai ketua I dan II. Cak Roeslan sendiri diangkat sebagai seorang penulis atau istilah kerennya Sekretaris.

Personil BKR sendiri berada di bawah komando Sungkono, dr. Mustopo, Jonosewoyo dan Pak Muhammad. Sedangkan pada Angkatan Laut komandannya adalah Pak Atmadji. Setelah terbentuknya aparatur daerah di Surabaya, terjadilah ketegangan antara pihak Indonesia dengan Belanda. Sebab piahk Belanda menginginkan agar seluruh sisa peninggalan Jepang diserahkan pada pihak Belanda. Keinginan Belanda yang ingin menjadikan Indonesia khususnya Surabaya sebagai “inventaris mati” ditolak mentah-mentah oleh rakyat Surabaya. Hingga terjadilah peristiwa menegangkan di Hotel Oranye atau Majapahit saat ini. Peristiwa itu adalah perobekan bendera Belanda menjadi bendera sang saka merah putih. Kejadian tersebut berlangsung tanggal 19  September 1945.  Aksi yang dikomandoi oleh Koesnowibowo ini memakan korban  pimpinan dari Belanda, Mr. Ploeggman.

Musuh rakyat Surabaya saat itu menjadi dua. Pihak Belanda dan Jepang. Pikiran serta tenaga dikuras benar dalam menghadapi dua musuh tersebut. Pertempuran terjadi di wilayah-wilayah kota Surabaya. Kondisi yang chaos ini memaksa pihak Belanda untuk melakukan penyusupan melalui sebuah angkatan militer team RAPWI (Rehabilitation Of Prisoners Of War and Interness). Team ini hanya sekedar mendompleng dengan alas an tindakan peri-kemanusiaan. Padahal tujuannya adalah politik.

Team RAPWI tersebut dipimpin oleh Kapten Angkatan Laut Belanda P.J.G Hiijer, Letkol. Relofson, Residen (Belanda) Maasen, Letnan Timmers dan Letnan Van Der Goor, team tersebut juga didampingi oleh penerjemah dari Maluku bernama Hulseve. Pimpinan Team RAPWI, dalam hal ini adalah Hiijer bermaksud untuk mengoper segala kekuasaan pihak Jepang dengan tujuan untuk menginvansi lagi kota Surabaya.
Prilaku Team RAPWI yang terkesan menganggap hina rakyat Surabaya membuat kemarahan pimpinan rakyat. Hingga memaksa Team RAPWI untuk segara angkat kaki dari Surabaya. Saat itu, kondisi benar-benar menegangkan. Di lain sisi persoalan terbunuhnya Mr. Ploeegman belum selasai sudah muncul lagi pemulangan secara paksa Team RAPWI.

Kacaunya sitem koordinasi antara pihak rakyat Surabaya sendiri menyebabkan adanya sebagian rakyat yang melakukan tindakan anarkis. Melakukan penjarahan, perampokan serta pemotongan saluran air dan listrik terhadap rumah –rumah milik warga negara Belanda. Merekalah yang disebut dengan istilah BUU, Barisan Usung-Usung. Mengangkut segala kekayaan warga negara Belanda.

Kondisi kacau ini membuat Gubernur Jawa Timur pertama, Pak Surio untuk mengambil inisiatif mengumpulkan seluruh residen di wilayah Jawa Timur tanggal 25 Oktober 1945. Segala sesuatu dibahas saat itu terutama bidang perekonomian. Pada tanggal itu pulalah mendarat pasukan Inggris di perak di bawah komando Jenderal A.W.S Mallaby. Pasukan ini bernama brigade ke-49 dengan jumlah pasukan 6000 personel yang kebanyakan berasal dari Gurkha atau Nepal dan India Utara.

Ada beberapa kesepakatan yang disepakati antara BKR dan Inggris kala pasukan Inggris  terus menerus menerus mendaratkan pasukannya di Perak. Kesepakatan itu terjadi pada tanggal 25 Oktober 1945 berisi poin menghentikan gerakannya sampai garis 800 m dari garis pesisir Tanjung Perak. Kesepakatan kedua ditandatangani di Kayoon pada tanggal 26 Oktober yang berisi tiga poin. Pertama, pelucutan senjata hanya pada tentara Jepang sedangkan TKR tidak. Kedua, Tentara Inggris membantu TKR dalam hal keamanan, ketertiban dan perdamaian. Ketiga, semua tentara Jepang akan diangkut melalui laut setelah persenjataan mereka dilucuti.

Akan tetapi perjanjian itu dikhianati oleh Pihak Inggris. Dengan sikap seweang-wenang tanpa salam tanpa kalam, mereka membebaskan tahanan Belanda yang ada di penjara Kalisosok tanpa pemberitahuan pada pihak TKR. Dengan angkuhnya pula mereka menyebarkan agitasi propaganda melalui selebaran yang meninginkan agar rakyat Surabaya, TKR khususnya untuk melucuti senjata dan menyerahkan semua peralatan perang Jepang pada tentara Inggris. Seruan pentyerahan senjata itu bertentangan dengan isi perjanjian tanggal 26 Oktober .

Terjadilah peperangan selama tiga hari berturut-turut disebabkan karena sikap Inggris yang seperti itu. Peperangan terjadi dari tanggal 28 -30 Oktober 1945. Merasa sudah hampir di ujung tubir kekalahan, pihak Inggris berusaha untuk merangkul pejuang Surabaya agar mau di ajak untuk berunding. Karena para pimpinan pejuang di Surabaya tidak ada yang mau di ajak berunding. Akhirnya dihubungilah pemerintah pusat dalam hal ini Soekarno untuk menghentikan serangan rakyat Surabaya terhadap pasukan Gurkha Inggris. Dengan cepat Soekarno merespon untuk menghentikan baku tembak antara dua kubu, Inggris dan Pejuang Surabaya.

Tepat tanggal 29 Oktober dicapailah enam poin kesepakatan. Pertama, perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya dengan PYM Ir. Soekarno untuk mempertahankan ketentraman Surabaya. Kedua, untuk menentramkan, diadakan perdamaian. Baku tembak harus dihentikan. Ketiga,keselamatan semua orang dijamin kedua belah pihak. Keempat, Syarat-syarat yang ada dalam selebaran akan dirundingkan antara PYM Ir. Soekarno dengan Panglima Tertinggi Tentara Pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 nanti. Kelima, boleh melakukan kegiatan dari kedua belah pihak. Keenam, Korban luka di rawat di bawa ke rumah sakit dan dijamin oleh kedua belah pihak.

Saat terjadinya perundingan antara pihak Surabaya yang dalam hal ini diwakili oleh Soekarno dengan pihak Inggris pada tanggal 30 Oktober, Terdapat sesuatu hal yang lucu saat itu di luar perundingan. Yaitu kala perundingan tingkat tinggi di Gubernuran. Tekanan dilakukan oleh pejuang Surabaya dengan mengendarai tank-tank sambil berputar-putar mengelilingi kantor Gubernuran. Maju mundur, maju mundur.  Padahal pengemudinya tidak bisa mengendarai tank. Hingga menimbulkan gemuruh yang menakutkan. Herannya yang takut bukannya pihak Inggris, tapi para pimpinan Republik ini yang ada di dalam kantor Gubernuran. Semisal Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Amir Syarifuddin.

Cak Roeslan sepertinya mencoba memaparkan saat itu tidak hanya berisi ketegangan saja, tapi juga tingkah lucu para pejuang Surabaya. Kata-kata yang nyelekit pun keluar khas Suroboyoan. “ Yok opo rek! Sing gemeter dadakan dudu Inggrise. Tapi Pengede-pengede dewe teko Jakarta. Saiki mandeke sediluk ae. Tapi engkok terusno maneh”

Terasa benar buku ini tidak hanya menggambarkan suasana peperangan saja, kelucuanpun ada. Hal ini menggambarkan bahwa dalam suasana tegangpun rakyat Surabaya masih menyelinginya dengan humor dan kelakar. Dalam perundingan itu sendiri telah tercapai beberapa kata sepakat. Diantaranya, diakuinya TKR dan diperbolehkanya memanggul senjata oleh pihak Inggris. Perjanjian pada tanggal 30 Oktober itu merupakan bentuk pengakuan pihak Inggris akan eksistensi Daripada TKR dengan syarat pasukan TKR mengenakan seragam.

Cak Roeslan juga berusaha  mencoba menguak tabir gelap kematian Jenderal Mallaby. Apakah ia tewas disebabkan karena butiran peluru pasukan Surabaya atau karena ia sengaja di”korban”kan oleh pasukan Inggris sendiri?.  Saat 30 Oktober itu, menurut Cak Roeslan, meskipun kesepakatan sudah ditandatangani antara pihak Surabaya dengan pihak Inggris. Akan tetapi di wilayah-wilayah lain masih terdengar tembak menembak antara kedua pasukan.

Di gedung Lindetevees dekat Jembatan Semut dan di Gedung Internatio dekat Jembatan Merah terjadi baku tembak terus menerus. Ketegangan segera mereda setelah pemimpin kedua belah pihak datang ke lokasi untuk menenangkan pasukan masing-masing agar tidak melakukan tembakan. Dari pihak TKR Surabaya ada Tjak Doel Arnowo, Sungkono, Pak Dirman dan Cak Roeslan sendiri. Dari pasukan Inggris pemimpinnya yang hadir adalah Jenderal Mallaby beserta stafnya Kapten H.Shaw.

Terjadi lobi yang alot antara dua pihak di dalam Gedung Internatio. Hingga dari dalam gedung ada pihak Inggris yang melempar granat, suara desingan tembakan bergemuruh dari lantai bawah dan atas gedung menembaki para TKR yang sedang ada di luar gedung. Nah saat kondisi chaos itulah, menurut cak Roeslan terdengar ledakan granat dari dalam mobil yang ditumpangi oleh Jenderal Mallaby dan dua anggota stafnya, Kapten Smith dan Kapten Laughland.

Kontroversi kematian Jenderal Mallaby ini ada dua pendapat. Pertama,ada kesangisan dari Kapten Smith kalau Jenderal Mallaby sendirilah yang memberikan instruksi kepada  Kapten Shaw untuk menembaki rakyat dari dalam gedung Internatio bila tetap memaksakan tuntutannya. Kedua, pengakuan dari Mayor Vanu Gopal bahwa dialah yang memerintahkan pasukan Ghurka untuk menembaki rakyat terlebih dulu dari dalam gedung Internatio.

Kematian Jenderal Mallaby inilah membuat berangnya pimpinan Tentara Sekutu untuk Asia Tenggara, Jenderal Christison. Pad tanggal 31 Oktober 1945 ia mengeluarkan ancaman agar seluruh pejuang Surabaya yang terlibat dalam pembunuhan Jnederal Mallaby untuk segera menyerah dan memasrahkan seluruh persenjataannya pada tentara sekutu. Jika tidak, maka akan di serang dari segala penjuru. Baik darau, laut dan udara.

Ancaman Jenderal Christison ini mendapat penolakan dari seluruh pejuang. Sebab hal itu sama saja menyerahkan seluruh pemerintahan Republik di Surabaya dengan segala alat-alat keamanan dan pertahanannya pada Inggris.

Setelah tewasnya Jenderal Mallby maka posisinya digantikan oleh Mayjen B.C Mansergh OBE,MC. Kedatangannyapun sama. Mencoba untuk membuat pejuaang atau TKR menyerah kalah. Secara diam-diam pasukan Inggris mendaratkan pasukan baru divisi -5 sebesar 24.000 personel tentara. Terjadinya perang habis-habisan sepertinya tinggal menunggu waktu saja. Antar kedua pimpinan kedua belah pihak sendiri terjadi perang psikologis melalui surat-menyurat.

Melalui surat menyurat itu, Jenderal Inggris mengancam Gubernur Surio agar menyerahkan seluruh senjata pada Inggris. Jika tidak menyerahkan hingga batas waktu yang telah ditentukan, maka pihak Inggris akan menggunakan kekuatan-kekuatannya baik di laut, darat dan udara. Selain itu pihsk Inggris juga meminta agar semua pimpinan pemuda dan pejuang agar menyerahkan diri sambil baris satu persatu dengan membawa senjata yang dimilikinya.

Permintaan sekaligus ancaman pihak Inggris ini tentunya di tolak oleh seluruh pejuang Rakyat. Hingga terjadilah pertempuran besar-besaran pada tanggal 10 November 1945. Seluruh rakyat Surabaya saat itu bersatu padu menyongsong ancaman yang dilontarkan oleh pihak Inggris.  Persiapan lahir batin dilakukan oleh segenap rakyat Surabaya. Tua muda bersatu menyingsingkan lengan baju utnuk mengusir penjajajh dari bumi pertiwi. Sungguh mengharukan sekali buku ini kala peristiwa pertempuran 10 November. Surabaya di bombardier dari segala penjuru. Laut, udara dan darat.

Perkiraan Inggris bahwa Surabaya dapat ditaklukkan dalam jangka waktu beberapa hari saja ternyata perkiraan itu meleset. Gelora semangat para pejuang membuat pihak Inggris mengalami banyak kejatuhan korban jiwa. Hingga pihak Inggrispun menamai Surabaya sebagai ladang “inferno” atau neraka buat mereka.

Penuturan Cak Roeslan melalui buku ini membuat para pembaca merasa ikut terhanyut dalam pertempuran menggemparkan itu. Disertai dengan adanya dokumen-dokumen, foto-foto semakin menambah para pembaca seperti mengalami sendiri kejadiaan saat itu. Dan sebagai penutup, buku ini wajib di baca bagi para pemuda,  Agar nantinya semangat jiwa nasionalisme yang menggelora tetap terpatri dalam dada. Puncaknya, semangat Suro Hing Boyo , berani dalam bahaya tidak akan pernah padam berada di sanubari rakyat Indonesia pada umumnya, dan rakyat Surabaya pada khususnya. (Muhammad Shofa)

Judul Buku               : Seratus Hari Di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia
Penulis                      : Dr.H.Roeslan Abdulgani
Penerbit                    : PT.Jayakara Agung Offset  Jakarta
Cetakan                     : VI Tahun 1995
Tebal                          : 133 Hal
ISBN                           :

 *) Ini adalah resensi untuk buku SURABAYA REVIEW hasil karya belajar Bengkel Biblio Angkatan I

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar