image1 image2 image3

DBUKU.ORG|PERPUSTAKAAN PRIBADI DIANA SASA|MENYEDIAKAN BUKU BACAAN GRATIS UNTUK UMUM|RUANG PUBLIK DAN KEDAI UNTUK DISKUSI, NONTON BARENG, RAPAT, PAMERAN, MINI KONSER, DSB

Rafilus, Laki-laki yang Mati Dua Kali

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, Dia mati lagi. Padahal semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang, paling-paling dia hanya berkarat. 

Ini adalah novel dengan gaya absurb, semua tokoh-tokohnya aneh, antara ada dan tiada. Rafilus dikisahkan sebagai manusia aneh yang tidak terbuat dari daging melainkan besi.

Kulitnya hitam mengkilat, seperti permukaan besi yang sering dipoles dan ham
pir tidak pernah berhenti digosok.

Keringatnya nampak bukan sebagai keringat, melainkan minyak pelumas. Dengan adanya minyak, tubuhnya menjadi semakin mengkilat. Dia benar-benar tidak terbentuk dari daging.

Pawestri, pacar Tiwar, yang punya kelainan perilaku seks. Hobinya jatuh cinta pada lelaki tak peduli bagaimana kondisi laki-laki, entah  lelaki itu pincang ataupun bergigi tongos, dan dimalam hari Pawestri sering membayangkan dirinya bergiliran habis digarap banyak lelaki.

Cinta saya sangat mudah meledak. Seburuk-buruk raut wajah dan potongan tubuh seorang laki-laki, pasti ada lekuk tubuhnya yang tetap meledakan semangat saya untuk habis digarapnya. Saya siap jatuh cinta kepada sembarang laki-laki.

Munandir seorang opas pos yang suka mengumbar cerita walau tak pandai menyampaikannya, saking ngawurnya sampai-sampai Tiwar mesti menceritakannya dengan bahasanya sendiri

Peristiwa-peristiwa terpisah dirangkaikannya demikian saja. Kadang-kadang ada juga serangkaian peristiwa yang menurut saya beruntun, oleh dia ditebar dengan cara sembarangan.
Saya mengalami kesulitan besar mengikuti ceritanya. Karena itu lebih baik saya mengambil oper kedudukannya. Saya akan menuturkan kembali ceritanya dengan cara saya senditi.

Sungguhlah novel ini unik dan absurd. Sejumlah tokoh yang berperilaku aneh dan tidak umum membuat pembaca serasa dibawa kedunia khayal. Terkadang pembaca akan jenuh dengan jalannya cerita, namun akan didapat keanehan perilaku orang jaman sekarang dengan sangat rinci. Dijumpai kalimat-kalimat yang patut direnungkan, seperti;

Lebih berbahagia mempunyi anak tanpa suami daripada mempunyai suami tanpa mempunyai anak.
Cintailah satu sama lain, tapi janganlah membuat ikatan cinta antara keduanya.
Seorang perempuan yang tidak ingin mempunyai anak mau tidak mau menyandang dosa, yaitu dosa melawan kodrat.

Tokoh-tokoh dalam Rafilus bercerita dengan gaya  masing-masing. Tidak bermunculan dialog. Peristiwa-peristiwa diceritakan sulih berganti antara masa silam dan masa kini.  Peristiwa yang berkecamuk dari pikiran para tokoh memang tidak pas jika disampaikan dengan bentuk dialog.

Dari sekian banyak Belanda yang sering  saya datangi, yang paling menarik adalah Belanda hitam di Jl. Raya Darmo 128. Sekarang rumah ini ditempati Konsul Jendral Jepang. Nama Belanda hitam itu Van der Klooning.

Saya berhenti, kemudian memandang patung itu. Patung itu terbuat dari besi, dan sangat kokoh. Sinar lampu kedua trem itu membuat patung Nampak mengkilat. Pikiran saya mau tidak mau meloncat kembali ke Van der Klooning. Andaikata pada waktu itu saya sudah mengenal Rafius, pasti otak saya juga tidak lepas dari dia.

Budi Darma, sastrawan yang lahir 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah ini menghadirkan latar Surabaya. Kota yang sangat dikenal baik olehnya, karena disinilah ia menikmati masa senja usianya.Tiga puluh tahun lebih ia berdiam disini. Waktu yang cukup untuk menyelami bagian-bagian terdalam tersempit sebuah kota.

Rafilus tinggal di daerah Margorejo, sedangkan saya di daerah Ketintang Wiyata. Jarak keduanya cukup jauh, dan terasa lebih jauh karena daerah dipisahkan oleh boulevard lebar bernama Jl. Ahmad Yani dan rel kereta api. 

Penguasaannya terhadap seluk beluk kota juga nampak dari cara Budi Darma menyebut beberapa tempat antara lain, Jl. W.R. Supratman, Jl. Pandegiling, Jl. Raya Darmo, Perak, Wonokromo, Tunjungan, Jl. Bumimoro, Morokrembangan, Tembakan, Jl. Ambengan, Jl. Basuki Rahmat, Jl. Banyu Urip, Jl. Ondomohen, Jl. Ikan Gurameh, Jl. Ahmad Yani, Jl. Jetis, Jl. Residen Sudirman.
Ia juga membuat alamat yang rinci seperti, Jl. W. R. Supratman 205, Jl. Ikan Gurameh Gg. Lebar V/7, Jl. Raya Darmo 128 dan Jl. Ketintang Timur PTT 1/105. Ketintang adalah wilayah Budi Darma berdiam saat ini.

Suasana yang menggambarkan Surabaya begitu nyata dan rinci;
Sementara mulut Jl. Margorejo Gang Lebar sangat sempit dan sama sekali tidak sesuai dengan namanya, mobil saya terpaksa merangkak perlahan-lahan.
Pada suatu senja setelah melebur, saya ke luar dari kantor kemudian melihat-lihat buku loakan di Jl. Keputran. Sampeyan tahu, di sepanjang Jl. Keputran tidak jauh dari tempat saya bekerja, banyak sekali pedagang kaki lima buku loakan.
Pada waktu mobil mendekati Jl.Margorejo Gang Lebar, kereta api Malang-Surabaya berderak-derak menuju ke Stasiun Wonokromo. Debu sangat lebat membangkak dalam udara panas.
Tapi saya tahu, dan dia juga pasti tahu, bahwa tidak mungkin ada bemo lewat Jl. W.R. Supratman, yaitu jalan mewah yang bukan urat-nadi. Kalau mau mencari bemo, dia harus berjalan terlebih dahulu ke Jl. Raya Darmo.

Tidak ketinggalan mantan Rektor IKIP Surabaya ini juga menyebutkan beberapa bangunan penting yang ada di Surabaya, seperti; Tugu Pahlawan, Stasiun Gubeng, Stasiun Semut, Stasiun Pasar Turi, Stasiun Wonokromo, Rumah Sakit Karangmenjangan, Rumah Sakit Khatolik, Rumah Sakit Angakatan Laut Wonocolo dan Telkom Ketintang.

Novelis yang produktif ini melukiskan kematian Rafilus seakan-akan telah dibuatkan naskah sendiri dalam cerpen yang di tulis Rafilus berjudul “Habibah”.

Dengan sangat indah kepala Habibah membuat beberapa jurus gerakan indah diudara, untuk kemudian dengan sangat indah pula terjun kesebuah tiang besi. Kepala menancap, matanya sejenak mengirimkan sinar-sinar memukau, kemudian lidahnya menjulur, seolah mengundang para penonton untuk diejek-ejeknya. (hal.211)

Beberapa saat kemudian barulah diketahui, bahwa kepalanya telah melesat, kemudian lehernya menancap pada pagar jalan terbuat dari besi. Kepalanya masih utuh, bagaikan kapala patung besi yang sengaja dipasang. (hal.219)

Sekali lagi dia terlanggar kereta api….. kepala Rafilus mengelinding lagi seolah memang  sudah tidak sudi lagi bersatu dengan tubuhnya.  Entah dengan cara bagaimana, kepalanya meloncat ketiang, menancap, dan mengejek orang-orang yang mendekatinya. (hal.223)

Diakhir cerita, pembaca akan disuguhkan dengan fakta bahwa kisah dari awal sampai akhir adalah sebuah naskah yang di tulis oleh tokoh Tiwar. Terdapat tulisan sebagai berikut diakhir cerita.

Tiwar
Surabaya, Juli 1981

Sastrawan yang namanya tercacat dalam Avent Garde ini melengkapi Rafilus dengan catatan-catatan yang mendukung dalam menulis Rafilus. 

Pada permulaan tahun lima-puluhan itu, saya mendapat bagian mengantar surat di daerah Darmo. Saya benar-benar mengenal dearah saya. Tempat bekerja saya tidak lain Kantor Pos Pembantu pada perempatan Jl. Raya Darmo – Jl. Dr. Sutomo.

Dalam catatan dijelaskan;
Sekarang gedung kantor pos ini sudah dirobohkan, dan menurut rencana akan diganti dengan monument kepolisian.
Dia juga yakin, bahwa selama mencari nafkah sebagai penjaga palang rel, belum pernah dia melihat kereta api lewat dengan kecepatan luar biasa tinggi kecuali kereta api keparat itu.

Dalam catatan dijelaska;
Di Surabaya sering terjadi kecelakaan tabrakan kereta api dengan kendaraan lain. Beberapa tahun lalu, sebuah kereta api menabrak bis kota Jl. Kencana daerah ngagel, tempat Munandir dalam novel ini menemui musibah. Beberapa hari kemudian, seorang pembaca menurunkan surat terbuka dalam Koran menganalisa detik demi detik jalannya kereta api, dan berusaha mencari jawab mengapa tabrakan terjadi. 

Surabaya yang tampak dalam Rafilus adalah kota yang tak begitu indah, tidak seperti apa yang terbayang, banyak tempat yang di gambarkan tidak nyaman, ganas, sempit dan kumuh.

Jl. Ahmad Yani tidak pernah tidak ganas. Pengendara becak, sepeda, dan sepeda motir  yang bijaksana tidak berani lewat jalan itu……Sudah  banyak mayat pengendara becak, sepeda, dan sepeda motor bergelimpangan di Jl. Ahmad Yani.

Saya memasuki Jl. Tambangboyo. Jalan ini luar biasa sempit, tapi luar biasa padat. Saya belum pernah memasukinya. Dan begitu memasukinya saya benar-benar sesak nafas.
Setelah kawin, kakaknya pindah ke sebuah kampung jembel tidak jauh dari Jl. Lamongan, daerah yang terjepit jaringan lampu merah.

Mobil saya berjalan terus perlahan-lahan. Jl. Tambangboyo sudah saya tinggalkan. Saya memasuki jalan lain, entah apa. Mungkin  Jl. Bronggalan, mungkin juga Jl. Karangasem, mungkin juga Jl. Karangempat. Saya benar-benar tidak ingat. Jalan makin sempit, makin rusak, makin kacau, dan makin gaduh.

Dibalik keunikan novel Rafilus, rupanya penyunting masih kurang teliti dalam penulisan.
Lama-kelamaan saya merasa telah. Saya merasa dipermainkan oleh Jumarup. Kata telah yang dimaksud adalah lelah.

Pada suatu hari dia bercerita, bahwa sudah tiga kali wakin. Dari masing-masing istri dia tidak mempunyai anak. Tentu dalam kalimat tersebut kata sebenarnya bukan wakin tetapi kawin.
Kalau Koran mereka cepat laki baik, kalau tidak cepat tidak apa-apa. Kata yang benar bukan laki melainkan laku.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya novel terbitan Jalasutra ini pantas untuk dibaca peminat sastra absurd. Akan sedikit sulit  untuk memahami jika pembaca adalah pembaca sastra pemula. (Titin Supriatin)

Tokoh
Tokoh utama;
Rafilus, laki-laki yang aneh. Tampak terbuat dari besi dan mirip dengan Van Der Klooning.
Tiwar, laki-laki yang penasaran dan mengikuti jejak Rafilus.
Tokoh pembantu;
Munandir, Opas pos yang suka mengumbar bercerita walau tak pandai menyampaikannya.
Pawestri, kekasih tiwar yang punya kelainan perilaku seks. Hobinya jatuh cinta pada lelaki tak peduli  bagaimana bentuk lelaki itu.
Rabelin, satu-satunya  laki-laki yang membantu pemakaman Rafilus.
Sinopsis
Tiwar berjumpa dengan Rafilus saat menghadiri undangan Jumarup, Tiwar begitu penasaran dengan sosok Rafilus yang tak seperti manusia pada umumnya, Rafilus sosok yang mirip dengan Van der Klooning seorang Belanda, ketika Rafilus membenturkan kepala ke  tiang listrik maka tiang listrik itu bengkok, dan Van der Klooning ketika memegang gelas maka gelas itu pecah.
Sosok Rafilus begitu menarik perhatian Tiwar, bayangan laki-laki mesterius itu terus berkelebatan dalam angan Tiwar. Seakan sebuah kebetulan sang opas pos bernama Munandir datang kerumah dan cerita begitu banyak tentang Rafilus. Diketahui  Margorejo tempat Rafilus tinggal.
Tanpa sengaja Prawesti menulis surat untuk Tiwar yang juga menceritakan keanehan Rafilus, rasa penasaran semakin mencekam. Keinginan untuk bertemu Rafilus tak dapat dibendung lagi. Melewati jalan yang buruk bahkan teramat buruk, akhirnya Tiwar berhasil menemukan Rafilus.
Memang dasar Manusia aneh, Tiwar memandangi dengan heran Rafilus membenturkan kepalanya ke tiang listri, namun yang terjadi justru tiang listriknya yang bengkok. Lemang Rafilus tidak terbentuk dari daging.
Ketika Tiwar, Prawesti dan Rafilus berkesempatan untuk bersama, sungguh malang nasib Rafilus. Mobil yang di naikinya terjebak di tengah rel, Tiwar dan Prawesti berteriak agar Rafilus meninggalkan mobilnya. Tapi kereta telah datang mendudu-dudu.
Terdengarlah bunyi jeledor sangat keras, mobil Rafilus terseret tiga ratus meter bersama tubuh Rafilus, kepalanya melesat tertancap pada pagar besi jalan. Kepalanya utuh tak ubahnya seperti patug kepala besi.
Kematian Rafilus menjadi sangat aneh, ketika tak satupun warga Margorejo yang mau mengurusi jenazahnya. Pasalnya Rafilus tak pernah menjadi anggota sinoman. Kemudian datang Rabelin dari Mojokerto yang membantu pemakaman Rafilus.
Ketika Rafilus diberangkatkan kepemakaman tak ada pelayat yang ikut serta, hanya ada Tiwar, Rabelin dan Ketua Rukun Tetangga. Naas dalam perjalanan kepemakaman ambulans macet ditengah rel kereta api. Orang-orang yang ada didalam ambulans melompat.
Tubuh Rafilus tentu saja tertinggal dalam ambulans, sekali lagi Rafilus tergilas kereta api, namun tubuhnya tetap utuh padahal ambulans telah hancur berkeping. Kepalanya menggelindin, meloncat ke tiang, menancap dan mengejek orang-orang yang mendekatinya.
***
Judul       : Rafilus
Pengarang   : Budi Darma
Penerbit    : Jalasutra
Tahun       : Cetakan I, Mei 2008
Tebal       : xii + 239.; 15 x 21 cm
ISBN        : 979-3684-97-6

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar