image1 image2 image3

DBUKU.ORG|PERPUSTAKAAN PRIBADI DIANA SASA|MENYEDIAKAN BUKU BACAAN GRATIS UNTUK UMUM|RUANG PUBLIK DAN KEDAI UNTUK DISKUSI, NONTON BARENG, RAPAT, PAMERAN, MINI KONSER, DSB

Dolly di Bawah Lindungan Tuhan


Foto, bagi seorang Trisnadi adalah saudara kembar bahasa. Foto, mampu mewakili mozaik panjang sebuah sejarah peradaban manusia ketika bahasa sudah mengalami kungkungan kekuasaan. Baginya, foto dapat membongkar logika dan retorika palsu, kebenaran yang disembunyikan dan dimanipulasi dengan sengaja. Foto kemudian menjadi berikade kesadaran reflektif yang menjadi kekuatan bahasa.Maka kemudian, Tris mengawinkan kelenturan bahasa dan kekuatan foto dalam Dolly: Hitam Putih Prostitusi. Menggandeng Dorothea Rosa Herliani untuk merangkai kuplet-kuplet sajak pengiring foto-foto bidikannya dalam secuil tanah di Surabaya yang menjadi lokalisasi terbesar Asia Tenggara: Dolly.

Aku membawa hati diantara kekosongan cinta yang
Amat kusut. Kutawar-tawarkan kepada semua lelaki
yang melukis angin di matanya.
tuhan, beri  aku kenikmatan cinta yang asing.
Beri aku ledakan-ledakan dan derak ranjang yang asing.
Beri aku segala yang tak dipunyai lelaki
Tapi bukan surga!

Puisi pembuka yang ditulis Dorothea ini menggambarkan perasaan seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang menjalani kehidupan dalam jerat komersialisasi birahi. Kesadaran yang mempertanyakan sekaligus menantang akan nasib yang  yang tak dikehendaki. Potret akan ketuhanan ini dibidik Trisnadi dalam sebuah foto perempuan PSK Dolly yang tengah ditawari poster. Pedagang poster itu menunjukkan gambar Yesus dan surat Yaasin. Foto ini seakan menampar PSK dengan tangan kesucian agama. Simak bagaimana Dorothea menafsirkan dalam sajaknya.

Benarkah Tuhan ada di sini?
Berapa waktu aku merasa tak ada surge terbuka
Hidup diantara satu-satunya pilihan.
Sekali saja sempat aku memilih berdoa
Dalam pintu harapan yang terbuka
Sesekali, aku membayangkan Tuhan, surge,
Dan doa hanyalah bianglala
Yang menggaris pandanganku
Ketika letih menggusur rindu kerontangku
Di padang sehara yang luas ini

Tuhan tidak mati dalam keyakinan perempuan-perempuan Dolly itu. Foto Trisnadi tentang aktivitas mereka mengaji, mengikuti Lomba MTQ PSK se-Surabaya menggambarkan bagaimana Tuhan berada pada titik ironi di garis ini.

Dolly identik dengan ‘akuarium manusia’, dimana tubuh-tubuh perempuan di pajang dalam sebuah etalase kaca seperti ikan hias yang dijajakan. Mereka dipoles sedemikian rupa agar memikat mata siapa saja yang menatapnya dari luar kaca. Meski mereka mengenakan pakaian super mini yang manampakkan separuh tubuh atas dan separuh tubuh bawah, namun reaksi mereka yang menutup muka ketika dibidik kamera menunjukkan bahwa mereka tak sedemikian kukuh untuk mengakui identitas pilihan pekerjaan mereka dipertontonkan secara lebih luas pada dunia diluar Dolly.

Seperti inikah hidup?
Aku, dietalase itu, dengan daftar harga,
dan siap ditawar. 

Dolly memang kawasan lokalisasi penjaja seks komersial. Ketenarannya bahkan menjadi identitas kota pahlawan, Surabaya, mengalahkan rawon dan tugu pahlawan. Meski kadang hanya menjadi bahan canda antar pelancong, tapi seringkali melahirkan rasa penasaran untuk sekedar meniliknya dari balik kaca mobil. Tapi Dolly sungguh seperti kampung-kampung kebanyakan. Diantara bar dan dagangan daging manusia yang gemerlap kala malam itu, terselip kehidupan keseharian laiknya kampung lain.

Foto-foto Trisnadi menggambarkan bagaimana di gang sempit itu terselip pedagang makanan, pengamen,toko kelontong, tukang parkir, dan tukang becak yang menggantungkan penghidupan pada tetamu wisma-wisma Dolly. Juga pedagang sayur mayur yang menyediakan bahan asupan gizi bagi semua penghuni Dolly. Disini pula anak-anak kampung bersekolah, bermain, dan belajar mengaji berhimpit dengan dinding-dinding mesum.

Seperti biasa, hidup berangkat pada pagi hari
Berjalan menuju harapan dan mimpi yang melelahkan
Mereka menanam hari depan di tubuh anak-anak
Yang gembira. 

Potret kehidupan gang kecil ini menunjukkan bagaimana banyak manusia menyandarkan tampu roda ekonomi pada jual beli kenikmatan di Dolly. Gambaran bahwa masyarakat sekitar Dolly adalah juga bagian dari masyarakat urban yang mencoba bertahan hidup tergambar dalam foto-foto seputar aktivitas sehari-hari di Dolly. Kondisi dimana banyak manusia yang bertumpu pada putaran ekonomi di Dolly ini lah yang  kemudian melahirkan pro dan kontra ketika isu penutupan Dolly mengemuka.

Memandang Dolly memang tak bisa hitam putih. Sex yang diperdagangkan terlanjur dipandang sebagai sebuah kegiatan menyimpang. Stigma-stigma negatif pun kemudian tertempel. Tak lagi penting motivasi dan persoalan apa dibaliknya. Pilihan Trisnadi dengan foto hitam putih tepat untuk menampilkan sisi ironi dalam kehidupan prostitusi Dolly. Perdagangan sex bisa jadi adalah dosa, aib, sampah, tapi jika kemudian manusia-manusia suci turut pula menjilat keringat dari dosa, aib dan sampah itu, masihkah Tuhan akan menutup pintu-pintu sucinya?

Mengabadikan kehidupan Dolly dalam sebuah dokumentasi foto dan sajak-sajak indah adalah sebentuk usaha dari manusia-manusia yang tidak memandang Dolly secara hitam putih. Mereka menyelami Dolly dari dekat, tidak meneropong dari jauh dan menabur garam sepakat penilaian umum secara serampangan. Kedekatan itu tertuang dalam foto-foto aktivitas perempuan-perempuan Dolly diluar rutinitasnya memajang diri dalam akuarium dan melayani tamu-tamu haus kenikmatan ragawi.

Bila tak dekat, Tris tak akan mampu mendapatkan gambar bagaimana mereka melepas kutang, memoles diri dalam riasan kosmetik, bersiap mandi, dan makan nasi bungkus di kamar kos mereka yang sempit dan pengab. Kedekatan itu pula yang membawa Tris untuk dapat mengambil gambar bagaimana mereka menghisap rokok sembari rebahan hanya dengan handuk yang membungkus tubuh dalam bilik wisma. Adalah kedekatan pula yang membuat Tris mampu menghadirkan potret-potret bagaimana mereka menuangkan bir untuk tamu, dan bersenda gurau dengan pelanggan.

Kedekatan yang dibangun Tris adalah kedekatan investigatif yang secara naluriah dimiliki Tris sebagai seorang jurnalis. Terlepas dengan kompensasi apa kedekatan itu dibangun, yang jelas Tris mampu meruntuhkan dinding yang membuat mereka dipandang sebatas manusia-manusia dalam kaca yang dijajakan. Tris membidik mereka dari dekat, membawa kenyataan-kenyataan ke permukaan sehingga mampu memunculkan sisi manusiawi.

Dan apa yang ditulis FX Rudy Gunawan dalam esai epilognya semakin menyentil sisi kemanusiaan siapapun yang membaca buku ini;
 
Hidup para pelacur sepenuhnya berada dalam ketidak pastian. Berbagai upaya untuk mengentaskan para pelacur nyaris tak pernah membuahkan hasil. Para pelacur terus bermunculan. Hilang satu tumbuh seribu. Pepatah ini mungkin tepat untuk menggambarkan regenerasi di dunia prostitusi dan mata rantai industrinya yang menggurita. Membelit setiap korban tanpa ampun.
Apa yang masih bisa diharapkan seorang pelacur dalam hidupnya? Cinta sejati? Ah, tak ada itu cinta sejati! Hidup normal;punya suami-punya anak. Mimpi! Siapa yang mau mengawini seorang pelacur? No Hope? Enggak juga, sih! Siapa tau ada mukjizat/ Mukjizat? Togel maksudmu? Ha-ha-ha!

Tawa Rudi Gunawan mungkin terdengar satir dan pedih. Tawa yang tak mengejek. Mungkin tawa yang menyimpan kepedihan. Menertawakan hidup yang tak punya pilihan lain. Tapi sungguh, kasunyatan hidup yang perempuan-perempuan Dolly jalani bukanlah sesuatu yang layak menjadi bahan tertawaan. (Diana AV Sasa)

Judul                     : Dolly: Hitam Putih Prostitusi (Selaksa Foto Puisi)
Penulis                 : Dorothea Rosa Herliani (Pusi, Cerpen)
Trisnadi (Foto)
Penerbit                : Gagas Media
Cetakan                : I, Juni 2004
ISBN                     : 979-3600-24-1

*) Ini adalah resensi untuk buku SURABAYA REVIEW hasil karya belajar Bengkel Biblio Angkatan I

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar