image1 image2 image3

DBUKU.ORG|PERPUSTAKAAN PRIBADI DIANA SASA|MENYEDIAKAN BUKU BACAAN GRATIS UNTUK UMUM|RUANG PUBLIK DAN KEDAI UNTUK DISKUSI, NONTON BARENG, RAPAT, PAMERAN, MINI KONSER, DSB

MAJELIS BIBLIO VII: Tangis Pustakawan di Hari Kartini

SURABAYA-DBUKU- Hari ini (21/4) Dbuku dipenuhi hujan tangis pustakwan. Ada yang menangis karena sesak mendapati kenyataan bahwa impian dan idealisme mesti berkompromi dengan kondisi yang tidak kondusif. Ada yang menangis karena haru dan malu menyadari bahwa profesinya ternyata hanya dijalani sebatas pekerjaan. 

Mereka yang berurai airmata itu adalah para pustakawan perempuan dan pegiat buku yang kerap membantu dbuku. Mereka berkumpul di dbuku untuk berbagi pengalaman seputar perpustakaan. Para pustakawan perempuan dari beberapa perpustakaan Perguruan Tinggi itu membagikan kisah awal mula menjadi pustakawan dan bagaimana suka duka menjadi pustakawan yang Pegawai Negeri. Sementara para pegiat buku berkisah bagaimana awal kecintaan mereka kepada buku dan bagaimana mereka melakukan kampanye membaca di masyarakat tanpa imbalan materi. 

Suasana haru mulai menyeruak ketika direktur dbuku, Diana Sasa mulai berkisah pengalaman masa kecilnya yang dekat dengan buku meski di desa terpencil. Buku lah yang kemudian membantunya membuka langkah-langkah kehidupan hingga bisa menjadi seperti sekarang. 

"Saya hanya ingin banyak anak Indonesia yang merasakan manfaat membaca buku seperti yang saya alami. Saya percaya dengan pengetahuan kita akan terhindar dari kemiskinan. Tapi ini ternyata bukan jalan yang mudah. Ini jalan sunyi yang mesti saya jalani dengan ketabahan sangat. banyak idealisme saya yang terbentur," tutur Sasa disela isaknya. 

Tangisan Sasa diikuti Gita Pratama, pustakawan dbuku yang ikut terharu mengenang masa kecilnya yang dikenalkan pada buku oleh kakeknya. Buku yang membukakan pintu bagi Gita mengenal sastra dan mendapat banyak teman. Meski teman-teman itu datang hilang berganti. Gita yang mengetahui beban berat yang ditanggung Sasa untuk mempertahankan perpustakaannya, jadi  ikut terbawa emosi. 

Salamet Wahedi, sahabat dbuku juga terbawa haru. Ia teringat masa lalunya yang dari desa kecil di Sumenep, Madura. Keluarganya miskin. Tapi ia tak mau menyerah. Kecintaannya pada bacaan mengantarkan Salamet untuk bisa kuliah dan menjadi sastrawan seperti sekarang. 

Kisah-kisah lain dituturkan Titin Supriatin, Shofa As-Syadzili, Hanif Nasrullah, dan Zainuri.Mereka sahabat-sahabat dbuku yang selama ini banyak mendukung aktifitas dbuku. 

Mendengar kisah-kisah itu, beberapa pustakawan jadi terbawa emosi.

"Saya malu. Mendengar kisah teman-teman saya sungguh malu. Saya ini lulusan jurus`n perpustakaan. Saya juga pustakawan yang digaji. Tapi melihat apa yang dilakukan teman-teman dbuku, juga semangatnya, saya merasa saya belum ada apa-apanya. Selama ini saya menjadi pustakawan ya sekedar bekerja sebagai pegawai saja. Saya tak pernah berpikir tentang misi mengembangkan minat baca dan berbagi pengetahuan. Terimakasih telah membuka mata hati dan pikiran saya," tutur salah seorang pustakawan.


 Acara ini yang digelar dbuku bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) ini adalah acara terakhir di Royal Plaza. Minggu depan dbuku akan boyongan ke kampung wonokromo. (TT)





Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar