image1 image2 image3

DBUKU.ORG|PERPUSTAKAAN PRIBADI DIANA SASA|MENYEDIAKAN BUKU BACAAN GRATIS UNTUK UMUM|RUANG PUBLIK DAN KEDAI UNTUK DISKUSI, NONTON BARENG, RAPAT, PAMERAN, MINI KONSER, DSB

MAJELIS BIBLIO X: Rumah Kepompong Wayan Artika

Dbuku kedatangan tamu dari Bali, namanya I Wayan Artika. Sahabat buku Antok Serean yang mengajaknya mampir ke perpustakaan dbuku.  Maka kemudian digelarlah Majelis Biblio untuk mendiskusikan novel terbaru Bli Wayan, judulnya Rumah Kepompong. 

Kali ini yang didapuk sebagai pembedah adalah Alek Subairi dan Zoya Herawati. Novel tentang kehidupan gay di Bali ini banyak mendapat pujian dari para pembedah maupun hadirin. Wayan bercerita dengan bahasa yang indah dan tidak berbelit. 

Wayan sendiri mengaku bahwa sebagai dosen Bahasa Indonesia ia mesti memberikan contoh pada mahasiswanya bagaimana menulis yang baik. 
Profil I Wayan ARtika: 
I WAYAN ARTIKA lahir di Pupuan, Tabanan, tepatnya di sebelah Barat Gunung Batukaru. Desa-desa di Kecamatan Pupuan cukup dingin dan di sini dihasilkan kopi. Menetap di desanya hingga kelas VI dan pergi ke Tabanan untuk pendidikan SMP dan SMA.
 
Di kota ini ia belajar teater sekolah dari Penyair Modre I Gusti Putu Bawa Samargantang. Sejak SMA hingga mahasiswa terlalu rajin menulis buku harian. Hal ini ternyata sangat penting dalam kegiatan tulis-menulisnya hingga saat ini. Sarjana pendidikan diraih dari FKIP Unud, di Singaraja. Di sini ia belajar jurnalistik dan mulai menulis untuk media massa. Setamat S1 ia bekerja di IKIP Negeri Singaraja, di Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan daerah.
 
Tertarik melepaskan diri dari kultur monolitik kampus, dimulaianya dari membaca banyak buku yang menarik di luar disiplin sarjananya. Lebih-lebih lagi ketika terlibat sebagai peserta dalam pelatihan penelitian tradisi lisan di Malang. Dengan bekal baru itu, ia pergi ke Yogyakarta, mengambil ilmu sastra. Selesai di S2 UGM, dengan tesis teater Jayaprana dari Desa Kalianget, Bali Utara. Sampai saat ini aktif menulis pendidikan dan budaya.
 
Aneh, jika ia selalu berkata bahwa di IKIP ia tak tahu pendidikan. Pedagogi dan filosofisnya atau andragogy, ditemukannya di Majalah Kebudayaan Basis, lewat pikiran-pikiran Paulo Praire. Secara intens belajar antropologi dari seorang pendeta yang sama-sama kuliah S2 di UGM. Di samping menulis esai, ia juga menulis cerpen. Cerpen terakhir Tower keluar sebagai juara harapan II dalam sayembara penulisan cerpen Balai Bahasa Denpasar 2004. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan (esai atau cerpen). Novel pertamanya, Inses keluar sebagai juara harapan I Lomba Penulisan Novel Bali Post, 2004.
 
Mengajar bagi Artika, adalah sebuah perjumpaan dan di sini hanya perlu dialog dari seorang guru yang tidak pintar tetapi guru yang bisa hidupkan generator pikiran anak didik. Tinggal di Pemaron Singaraja. Saat ini  novel Inses telah terbit, cetakan 2. Di tempat kerjanya mengelola penerbitan mingguan, SWINS, mengelola Warta Undiksha, ikut di majalah Pemkab Buleleng, sbg editor bahasa dan penulis opini. Saat ini bekerja di YGRP-Pacung. Membaca dan menulis adalah pekerjaannya dan itu bermula dari hoby. Buku lain karyanya telah terbit di bandung, Jayaparana-Layonsari. Saat ini sedang menunggu proses sleksi penerbitan novel kedua, Rumah Kepompong, novel yang didedikasikan kepada kaum gay di Bali

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar